Kehidupanku dan Dia

SASTRA, SENI, BUDAYA 25 Jul 2026 08:13 3 min read 170 views By Siti Fatimah

Share berita ini

Kehidupanku dan Dia
Cerpen Kehidupanku dan Dia merupakan salah satu karya kreatif siswa SMP Taman Hidayah Cilacap yang lahir dari kejujuran dalam mengamati pengalaman sehari-hari di lingkungan sekolah. Melalui kisah sederhana tentang pertemanan yang perlahan tumbuh menjadi rasa kagum dan suka, penulis mengajak pembaca menikmati dinamika kehidupan remaja yang penuh canda, rasa malu, harapan, dan kenangan. Dengan bahasa yang lugas dan mengalir, cerpen ini menunjukkan bahwa pengalaman sederhana dapat diolah menjadi sebuah karya sastra yang hangat, menyentuh, dan bermakna, sekaligus menjadi bukti bahwa peserta didik SMP Taman Hidayah Cilacap memiliki potensi untuk berkarya dan mengembangkan kreativitas melalui dunia literasi.

Kehidupanku dan Dia

Karya: Siti Fatimah

Hari Senin menjadi awal pertemuan kami. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah dan memarkir sepeda di tempat parkir. Saat itulah aku melihat seorang siswa yang belum pernah kukenal sebelumnya. Rasa penasaran membuatku memberanikan diri untuk menyapanya.

"Siapa namamu? Kamu kelas berapa?" tanyaku.

Ia tersenyum tipis sebelum menjawab, "Namaku Gusti. Aku kelas VII."

"Aku Siti Fatimah, kelas IX," balasku.

Sejak saat itu, kami mulai saling mengenal.

Keesokan harinya, saat aku sedang bermain bersama teman-teman, Gusti melintas di depanku. Tatapan kami sempat bertemu. Ia seperti ingin memanggilku.

"Siti... eh, nggak jadi," katanya sambil tersenyum malu.

Aku hanya menggeleng sambil berkata, "Hih, nggak jelas."

Bel masuk berbunyi. Sebelum kembali ke kelas, kami sempat saling menggoda dengan memanggil nama masing-masing. Anehnya, candaan kecil itu justru membuat suasana terasa menyenangkan.

Sepulang sekolah, aku kembali bertemu dengannya di tempat parkir sepeda. Kami kembali saling mengejek nama sambil tertawa, lalu pulang ke rumah masing-masing.

Hari Rabu, aku datang lebih pagi. Saat memarkir sepeda, kulihat Gusti sudah berada di sekolah. Aku memanggil namanya, dan ia langsung menoleh sambil membalas panggilanku dengan ramah.

Saat jam istirahat, kami kembali bertemu. Seperti biasa, kami saling menggoda dan saling mengejek nama. Entah mengapa, candaan-candaan sederhana itu mulai membuatku menunggu setiap kesempatan untuk bertemu dengannya.

Lambat laun, aku menyadari bahwa kehadirannya membuat hari-hariku terasa lebih berwarna. Kedekatan kami juga mulai diperhatikan teman-teman. Bahkan, ada yang mengira kami adalah sepasang kekasih. Padahal, kami hanya teman yang sering bercanda bersama.

Hari Kamis, kami kembali bertemu. Saat pandangan kami saling beradu, entah mengapa aku menjadi salah tingkah. Aku buru-buru masuk ke kelas agar rasa gugupku tidak terlihat.

Ketika jam istirahat tiba, aku pergi ke kantin. Di sana, Gusti kembali menggodaku.

"Istrinya Siti Fatimah, ya Allah..." katanya sambil tertawa.

Aku pura-pura kesal dan langsung membalas, "Agus... Agus!"

Ia hanya tertawa semakin keras, sementara aku berusaha menyembunyikan rasa malu yang mulai muncul di wajahku.

Hari Jumat kami mengikuti senam bersama. Kami berbaris dengan rapi di halaman sekolah. Sesekali kulihat Gusti tertawa lepas bersama teman-temannya. Senyumnya membuatku kembali salah tingkah.

Setelah senam selesai, kami duduk di tempat masing-masing. Kebetulan, ia duduk menghadap ke arahku. Tanpa kusadari, aku beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.

Hari-hari berikutnya berlalu begitu saja. Aku selalu merasa senang setiap kali bertemu dengannya. Memang, Gusti sering kali usil dan menyebalkan. Namun, di balik sifat jahilnya, ia adalah sosok yang ceria. Justru itulah yang perlahan membuatku menyukainya.

Awalnya kami hanya saling mengejek. Namun, seiring berjalannya waktu, kami menjadi semakin akrab, seolah-olah sudah lama saling mengenal. Meski begitu, ada satu rahasia yang kusimpan rapat-rapat: aku mulai menyimpan rasa kepadanya.

Suatu siang sepulang sekolah, aku menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda. Ternyata Gusti juga datang ke sana. Kami berjalan keluar menuju gerbang sekolah. Tanpa sengaja, arah jalan kami sama. Melihat itu, teman-temanku langsung menggoda dan mengira kami memiliki hubungan istimewa.

Hari Selasa berikutnya, aku kembali melihatnya datang dengan senyum yang sama. Bel pelajaran sudah berbunyi.

"Ayo masuk kelas," kataku.

"Iya," jawabnya singkat sambil bergegas menuju ruang kelas.

Saat jam makan siang, aku hendak mengambil makanan di depan ruang televisi sekolah. Namun, ternyata Gusti sudah berada di sana. Aku mendadak malu dan mengajak temanku ikut menemaniku agar rasa gugupku tidak terlalu terlihat.

Setelah makan, aku membeli minuman di kantin bersama temanku. Kami duduk sebentar sebelum kembali ke kelas. Di tengah perjalanan, teman-teman Gusti menggoda kami.

"Cie... pacarnya Gusti!"

"Cie... Gusti pacarnya Siti!"

Mendengar teriakan itu, wajahku langsung memerah. Aku hanya bisa tersenyum malu, lalu berlari menuju kelas, meninggalkan mereka yang masih tertawa.

Entah bagaimana kisah ini akan berakhir. Yang pasti, pertemuan sederhana di sekolah telah menghadirkan kenangan yang akan selalu kuingat.

Tamat.

SMP Taman Hidayah Cilacap